Hampir segala sesuatu di dunia ini memiliki sisi gelap yang bisa membahayakan banyak kalangan, terutama masyarakat jika terkait masalah politik.

Dalam politik sendiri, sosok yang berbahaya tersebut dikenal dengan istilah Politik Praktis, karena cenderung menghalalkan segala cara demi mendapatkan tujuan dari individu atau sekelompok orang yang menjalankannya.

Kata politik sendiri sebenarnya memiliki konotasi yang begitu positif, yang mana meliputi cara, upaya, langkah atau strategi yang dilakukan untuk mencapai tujuan bersama.

Namun semakin banyak orang yang terlibat, maka akan semakin banyak pula perbedaan pendapat yang biasanya berujung pada drama.

Tak jarang beberapa diantaranya menjadi sosok oposisi yang senantiasa mengkritik setiap kebijakan yang telah dibuat bersama.

Dikarenakan perbedaan pendapat itulah, maka akan lahir sebuah keinginan untuk memegang kekuasaan dalam suatu negara, dan itu menjadi tujuan utama dari Politik Praktis yang mereka jalankan.

Sayangnya, Indonesia sudah memiliki banyak sekali kasus seperti ini. Dan parahnya lagi, kebanyakan diantaranya dilakukan secara terang-terangan.

Contoh yang paling seru untuk kita lirik adalah ketika partai politik mencoba menggunakan influencer atau publik figur yang sudah terkenal, agar mampu menarik simpati masyarakat dengan lebih mudah.

Semakin terkenal publik figur tersebut, maka akan semakin mudah mendapatkan dukungan dari masyarakat.

Keuntungannya sendiri mungkin hanya berimbas pada partai bersangkutan dan si publik figur. Sementara rakyat mungkin tak akan merasakan perubahan yang signifikan, atau – lebih buruk lagi – mengalami penderitaan.

Contoh Politik Praktis yang – mirisnya – disambut oleh masyarakat kita adalah ketika calon pemimpin membagi-bagikan uang agar dipilih saat masa pencoblosan berlangsung.

Masyarakat sendiri tahu bahwa hal tersebut adalah aktivitas politik yang tidak sehat. Namun kebanyakan dari mereka berpikir untuk mendapatkan keuntungan sesaat, karena yakin bahwa ketika sang calon sudah terpilih, maka biasanya mereka akan dilupakan begitu saja.

Jadi, sebisa mungkin mereka akan mencoba mendapatkan keuntungan sebelum akhirnya dibuang.

Ada pula kasus yang lebih parah, yaitu berupa menenggelamkan teman politik sendiri untuk dijadikan tumbal agar kebobrokan yang lebih besar tidak terendus.

Seringkali menggunakan taktik pengalihan isu agar fokus masyarakat lebih terarah pada hal lain daripada sesuatu yang seharusnya menjadi prioritas utama mereka.

Politik Praktis, Berbahaya Karena Menghalalkan Segala Cara